Home Internasional Tidak Kirim Utusan, Dubes Palestina Kecam Keras Deal of the Century yang Diinisiasi Amerika

Tidak Kirim Utusan, Dubes Palestina Kecam Keras Deal of the Century yang Diinisiasi Amerika

7 min read
0
0
3

Digelarnya konferensi ekonomi bertajuk 'Peace for Prosperity' di Manama, Bahrain, pada 25 dan 26 Juni 2019 tidak mendapat respons positif dari Palestina. Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair al Shun pun menyampaikan kecamannya melalui konferensi pers yang digelar di Kedutaan Besar Palestina, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (26/6/2019). Sebagai bentuk penolakan terkait konferensi itu, Palestina pun tidak mengirimkan utusannya dalam konferensi yang disebut Deal of the Century yang diinisiasi Amerika Serikat (AS) untuk perdamaian Palestina Israel.

Menurutnya, konferensi itu hanya 'kedok' karena nantinya hasil rekomendasi dari agenda tersebut akan membuat rakyat Palestina semakin berada pada posisi sulit. "Konferensi yang diadakan di Manama, merupakan konferensi yang nantinya akan menghasilkan poin poin rekomendasi yang akan menyulitkan dan akan membuat rakyat Palestina menjadi lebih sulit lagi," ujar al Shun dalam konferensi tersebut. Ia menegaskan, pihaknya memboikot konferensi tersebut karena sejak awal menilai tidak akan ada keuntungan yang diperoleh Palestina.

Bertema ekonomi, al Shun menganggap apa yang sedang diupayakan saat ini melalui konferensi tersebut hanya akan menguntungkan AS saja. "Pada konferensi yang berlangsung di Manama ini, pihak pemerintah Palestina sama sekali tidak mengikuti dalam rentetan rentetan cara yang ada," ucap al Shun. Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun tidak yakin terhadap upaya Amerika Serikat khususnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel.

Keraguan tersebut muncul karena ia melihat Trump sangat menunjukan keberpihakannya kepada Israel yang tampak dari kedekatan Trump dengan Calon Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dalam Pemilu di Israel. Hal itu disampaikan Zuhair di kantor Kedutaan Besar Palestina di Menteng Jakarta Pusat pada Jumat (17/5/2019). "Karena sekarang kita sudah lihat dalam Pemilu Israel, Trump berada di belakang Netanyahu sampai akhir proses tersebut. Dari hal itu pun tidak menunjukan keberpihakan pada kami. Kami sangat yakin, ini hanya permainan saja. Saya tidak yakin Trump ingin menjadi mediator dalam perdamaian tersebut," kata Zuhair.

Diberitakan Kompas.com, Penasihat senior Amerika Serikat (AS) Jaredh Kushner angkat bicara soal rencana perdamaian di Timur Tengah antaraIsrael danPalestina. Kushner yang juga menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu menuturkan, Gedung Putih telah mengembangkan "cetak biru" rencana perdamaian disertai visi ekonomi. Berbicara di Washington Institute for Near East Policy, Kushner mengungkapkan tentang solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel serta Palestina.

"Jika Anda menyebutkan solusi itu, tentunya satu bagian kepada Israel, satu bagian lagi kepada Palestina," terang Kushner dilansirNew York PostJumat (3/5/2019). "Kami akan berkata 'Anda tahu, jangan katakan itu. Mari katakan, ayo fokus kepada detil yang menjadi rencana ini'," ujarnya. Namun Kushner dikutipThe Guardianmenolak membeberkan rencana itu.

Meski begitu, dia memastikan status final antara Israel dan Palestina ketika diumumkan pertengahan 2019 ini. Pimpinan Palestina telah menyatakan tidak akan menerima mediasi dari Trump, yang mereka anggap sudah membuat serangkaian kebijakan yang menguntungkan Israel. Salah satunya adalah ketika Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017, sekaligus memindahkan kedutaan besarnya ke sana.

Israel selalu menganggap kota suci bagi tiga agama itu sebagai ibu kota mereka. Namun, Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan. Kushner mengungkapkan sang ayah mertua sempat bertanya kepadanya tentang bagaimana keputusan pengakuan Yerusalem itu bakal memberikan dampak ke depannya. Dia menjawab awalnya bakal terasa pedih. Namun di masa depan dia merasa keputusan itu bakal membantu karena menurutnya, proses perdamaian harus dimulai dari mengakui sebuah kebenaran.

"Saya pikir ketika kami mengakui Yerusalem, itulah kebenarannya. Yerusalem merupakan ibu kota Israel. Itu bagian dari perjanjian akhir," ujarnya. Kushner mengatakan, dia mengakui jika rencana perdamaian itu tidak akan langsung menemui kesuksesan. Tapi dia berharap rencana itu menggulirkan terobosan dan dialog. "Kami membangun bisnis yang bagus dengan komponen ekonomi kuat tentang bagaimana rakyat Palestina bisa mendapat peningkatan ekonomi," tukas Kushner.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sempat berjanji bakal menduduki permukiman di Tepi Barat. Sebuah langkah yang bakal dikecam keras Palestina maupun Dunia Barat. Kushner menuturkan Israel tentu bakal berkompromi. "Saya harap semua pihak bisa saling memahami sebelum membuat keputusan," papar suami Ivanka tersebut.

Load More Related Articles
Load More In Internasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Donald Trump Tantang Joe Biden Lakukan Tes Narkoba Jelang Debat Pemilu AS 2020

Presiden AS Donald Trump menantang rivalnya, Joe Biden untuk menjalani tes narkoba menjela…