Home Travel Termasuk Alasan Antariksa Berwarna Gelap Deretan Fakta Unik Ruang Angkasa

Termasuk Alasan Antariksa Berwarna Gelap Deretan Fakta Unik Ruang Angkasa

6 min read
0
0
3

Dengan teknologi yang telah diciptakan sekarang ini, manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Penjelajahan manusia di ruang angkasa bertujuan untuk mencoba mengungkap misteri alam semesta. Banyak dari misteri alam yang berhaisl diungkapkan oleh ilmuwan.

Robot penjelajah, Curiosity, menghasilkan foto sunset berwarna pertamanya di Planet Mars pada 2015 dan mengungkapkan matahari terbenam di planet itu berwarna biru. Menurut NASA, hal ini disebabkan debu di atmosfer Planet Mars memiliki partikel lembut yang memancarkan cahaya biru lebih efisien dibandingkan gelombang warna lain yang lebih panjang seperti kuning, oranye, dan merah. Ahli muatan dan insinyur stasiun ruang angkasa Ravi Margasahayam mengatakan, setiap pon muatan dapat menelan biaya 10 ribu dolar AS untuk dikirimkan ke luar angkasa.

Harga ini telah meroket karena biaya kargo pesawat ruang angkasa Cygnus milik Cykeus adalah sebesar 43.180 dolar AS per pon, dan untuk kapal induk baru SpaceX sekitar 27 ribu dolar AS per pon. Satu botol air seberat 16 ons dapat dikenai biaya antara 9,100 hingga 43.180 dolar AS untuk diluncurkan ke luar angkasa. Ruang penuh dengan berbagai sampah, seperti printilan printilan roket bekas dan satelit mati. Benda benda ini terus mengorbit Bumi dengan kecepatan sekitar 17.500 mil per jam ata 10 kali lebih cepat daripada lesatan peluru.

Space Surveillance Network (SSN) melacak berapa banyak puing di luar sana dan dari mana asalnya. SSN saat ini berhasil melacak 23.000 objek yang berukuran lebih besar dari softball. Sampah antariksa ini sangat berbahaya karena satu tabrakan dapat memicu reaksi berantai pada benda benda lain yang juga bisa saling menabrak.

Sehingga, menghasilkan gumpalan serpihan yang akan membuat perjalanan luar angkasa menjadi sangat berbahaya. Bencana semacam ini menjadi premis film yang dirilis pada 2013, Gravity yang dibintangi Sandra Bullock dan George Clooney. AS bertanggung jawab atas sampah antariksa terbanyak dengan 3.990 serpihan puing pada 28 Maret 2018.

Sementara, Rusia bertanggung jawab atas 3.959 serpihan puing, diikuti oleh China dengan 3.893 serpihan. Bebatuan bulan terkikis dengan kecepatan 0,04 inci setiap 1 juta tahun. Ini berarti, jejak kaki astronot di bulan dari misi Apollo pada 1969 bisa bertahan di sana selama 10 hingga 100 juta tahun.

Ruang angkasa tidak serta merta menjadi wilayah tanpa hukum. Ada hukum khusus yang dibuat oleh United Nations Office for Outer Space Affairs atau Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa yang bertujuan memastikan ruang angkasa tidak menjadi zona perang atau situs uji nuklir. Beberapa di antara hukum yang berlaku adalah: tidak ada yang boleh menempatkan senjata pemusnah massal ke orbit, eksplorasi ruang angkasa harus dibatasi pada "sarana perdamaian," dan negara yang meluncurkan suatu objek ke ruang angkasa harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkannya.

Kita berpikir, seharusnya ruang angkasa tidak berwarna hitam karena adanya bintang bintang yang tersebar di setiap sudutnya dan langit terisi dengan cahayanya. Namun, nyatanya tidaklah demikian. Fenomena ini dikenal sebagai Olbers' Paradox, dinamai demikian dari astronom Jerman Heinrich Wilhelm Olbers yang mengajukan teori pada 1823 yang berbunyi: jika alam semesta tidak terbatas, statis, dan abadi, maka di mana pun kamu akan mengarahkan penglihatan, pasti akhirnya melihat bintang.

Namun, ternyata alam semesta tidak statis dan tidak abadi. Edwin Hubble menemukan alam semesta selalu mengembang, dan radiasi termal yang tersisa dari Big Bang menempatkan alam semesta pada usia 13,8 miliar tahun. Kita tidak bisa melihat bintang di segala arah karena beberapa bintang belum eksis cukup lama bagi cahaya mereka mencapai penglihatan kita.

Galaksi Bima Sakti memiliki sekitar 100 miliar bintang. Jika dikalikan dengan perkiraan jumlah galaksi di alam semesta yang sudah berhasil teramati, yakni sekitar10 triliun, hasilnya adalah 1 dengan 24 angka nol setelahnya, yakni 1 septiliun. David Kornreich, asisten profesor di Ithaca College, mengatakan jumlah itu mungkin bisa terlalu kecil karena ada lebih banyak galaksi yang kemungkinan akan ditemukan lagi seiring dengan kemajuan teknologi manusia.

Load More Related Articles
Load More In Travel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

5 Kota Ini Dinobatkan Sebagai Kota Paling Ramah Sepeda di Dunia

Sepeda sempat menjadi tren di Indonesia saat pembatasan perjalanan karena Covid 19. Kebias…