Home Internasional Respons Mantan Presiden George Bush Soal Aksi Unjuk Rasa Bela Floyd di Amerika Serikat

Respons Mantan Presiden George Bush Soal Aksi Unjuk Rasa Bela Floyd di Amerika Serikat

8 min read
0
0
2

Mantan Presiden George W Bush menyerukan kepada warga Amerika Serikar untuk melihat kegagalan tragis dari ketidakadilan rasial di Amerika. Demikian George W Bush menanggapi gelombang unjuk rasa yang marak terjadi di Amerika Serikat selama sepekan terakhir. "Ini tetap merupakan kegagalan mengejutkan banyak warga keturunan Afrika Amerika, terutama pria keturunan Afrika Amerika muda, diganggu dan terancam di negara mereka sendiri, " kata Bush dalam pernyataan yang mengekspresikan kesedihan atas kematian George Floyd.

Pembunuhan warga kulit hitam itu telah memicu gelombang besar kerusuhan sipil yang tidak pernah terlihat di AS sejak 1968, saat pembunuhan pejuang Hak Asasi Manusia, Martin Luther King Jr. "Tragedi ini, dalam serangkaian panjang tragedi yang sama, menimbulkan pertanyaan yang sudah lama tertunda, 'bagaimana kita mengakhiri rasisme sistemik dalam masyarakat kita'?" ujar Bush. "Ini adalah waktunya untuk memeriksa kegagalan tragis kita," ucap Bush.

Sebagian besar aksi protes yang telah menyebar di seluruh Kota di AS sejak kematian Floyd telah berangsur damai, tetapi beberapa aksi telah merosot menjadi kerusuhan. Sementara Presiden AS Donald Trump, yang telah menolak peran tradisional presiden sebagai kekuatan untuk kesatuan selama saat saat krisis nasional, pada hari Senin mengancam akan menurunkan militer untuk mengakhiri aksi demonstrasi. Meskipun demikian, Bush tidak menyebut nama rekannya dari Republik itu dalam pernyataannya.

Tapi Bush menekankan kebutuhan untuk mendengarkan suara dari begitu banyak orang yang terluka dan berduka. "Mereka yang ingin membungkam suara suara itu tidak mengerti arti dari Amerika atau bagaimana Amerika menjadi tempat yang lebih baik," katanya. "Para pahlawan Amerika, dari Frederick Douglass ke Harriet Tubman, ke Abraham Lincoln, Martin Luther King Jr, mereka adalah pahlawan persatuan," tegasnya. (AFP/Channel News Asia)

Dua dokter melakukan autopsi independen terhadap jenazah George Floyd, yang meninggal dalam tahanan polisi di Minneapolis dua pekan lalu dan memicu gelombang unjuk rasa dan rusuh di Amerika Serikat. Hasil autopsi menyimpulkan, George Floyd meninggal karena sesak napas lantaran leher dan punggungnya ditekan, sehingga tidak ada aliran darah ke otak. Sehingga tewasnya George Floyd merupakan pembunuhan.

Hasil autopsi menunjukkan pria 46 tahun itu meninggal di tempat kejadian perkara (TKP). Para dokter juga mengatakan Floyd tidak memiliki kondisi medis yang mendasar dan berkontribusi pada kematiannya. Hal ini sungguh bertentangan dengan temuan awal autopsi resmi oleh Hennepin County Medical Examiner, yang dikutip dalam dokumen pengadilan, bahwa tidak ada bukti pencekikan traumatis.

Sebagaimana diketahui dari dokumen tuntutan, seorang anggota polisi kulit putih dihadapkan ke pengadilan karena melakukan aksi pembunuhan terhadap Floyd. Polisi yang menindih leher Floyd, Derek Chauvin, kini sudah dipecat dan dituntut atas pembunuhan tingkat tiga dan pembantaian. Hasil ini juga mengatakan penyakit arteri koroner dan hipertensi juga mungkin berkontribusi terhadap kematian Floyd.

Laporan autopsi lengkap dari daerah setempat belum dirilis. "Bukti ini konsisten dengan asfiksia mekanik sebagai penyebab kematian dan pembunuhan sebagai cara kematian," kata Dr Allecia Wilson dari University of Michigan, salah satu dari dua dokter forensik yang melakukan autopsi independen. Video yang beredar menunjukkan Floyd memohon dan berulang kali mengatakan, 'ia tidak bisa bernapas' ketika seorang polisi Derek Chauvin terus menempelkan lututnya ke leher Floyd selama hampir sembilan menit.

Dua petugas lainnya juga menekan lutut mereka ke punggung Floyd. Dr Michael Baden, yang juga mengambil bagian dalam autopsi independen atas permintaan dari keluarga Floyd, mengatakan, tindakan dua anggota polisi itu juga menyebabkan Floyd kematian. Baden menambahkan ia tidak menemukan masalah kesehatan yang mendasar pada Floyd dan menyebabkan kematiannya.

Baden berpengalaman dalam menangani kasus kasus besar, termasuk kasus kematian 2014 lalu, Eric Garner, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah dicekik oleh polisi di New York. "Banyak polisi punya kesan bahwa jika Anda dapat berbicara, itu berarti Anda sedang bernapas. Itu tidak benar, "kata Baden. "Saya berbicara sekarang di depan Anda dan tidak bernapas," ucapnya sambil menirukannya.

Antonio Romanucci, salah satu pengacara yang mewakili keluarga Floyd, mengatakan empat polisi yag berada di tempat kejadian harus menghadapi tuntutan. Jadi bukan hanya Chauvin. "Tidak hanya lutut di leher George penyebab kematiannya, tapi begitu juga dua polisi lain yang melakukan hal yang sama di punggungnya, yang tidak hanya mencegah aliran darah ke dalam otaknya, tetapi aliran udara ke dalam paru parunya," kata Romanucci. "Karena itu semua petugas di TKP harus bertanggung jawab," tegasnya.

Ben Crump, pengacara kepala dari keluarga Floyd, mengatakan autopsi independen dan bukti video memembuktikan, Floyd sudah tewas ketika ia masih berbaring di jalan dengan polisi di atasnya. Keluarga Floyd juga meminta agar aksi protes kekerasan yang terjadi di Amerika Serikat untuk segera diakhiri. "George meninggal karena ia membutuhkan napas, menghirup udara," kata Crump.

"Saya memohon Anda semua untuk bergabung dengan keluarganya dalam mengambil napas mengambil napas untuk keadilan, mengambil napas untuk perdamaian. "

Load More Related Articles
Load More In Internasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Donald Trump Tantang Joe Biden Lakukan Tes Narkoba Jelang Debat Pemilu AS 2020

Presiden AS Donald Trump menantang rivalnya, Joe Biden untuk menjalani tes narkoba menjela…