Home Lifestyle Pegiat Smart Parenting Sarankan Ini Shandy Aulia Alami Mom Shaming

Pegiat Smart Parenting Sarankan Ini Shandy Aulia Alami Mom Shaming

7 min read
0
0
2

Nama aktris Shandy Aulia menjadi ramai dibicarakan setelah dirinya membagikan momen memberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk sang anak, Claire Herbowo, di usia 4 bulan. Pasalnya, hal tersebut menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Shandy pun kemudian memberikan penjelasan bahwa pemberian MPASI untuk Claire ia lakukan berdasarkan petunjuk dokter.

Namun, sejumlah warganet masih ramai membicarakannya. Bahkan, beberapa di antaranya juga melakukan mom shaming di kolom komentar media sosial sang aktris. Pemerhati anak sekaligus pegiat smart parenting, Chrisnina Sari, mengatakan perilaku mom shaming atau melontarkan komentar negatif pada seorang ibu memang seringkali terjadi di lingkungan sekitar.

Menurutnya, tindakan tersebut pun membuat para ibu rentan mengalami depresi. Nina mengatakan, pada dasarnya, perilaku shaming atau mengolok orang lain berasal dari pikiran logis yang semakin dangkal. Shaming itu berasal dari mindset orang yang semakin dangkal pikiran logisnya," ujarnya.

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika kita mengalami mom shaming ? Nina menuturkan, ketika mengalami mom shaming, hal yang harus dilakukan adalah mengendalikan diri untuk tidak reaktif. Menurutnya, seseorang perlu memastikanbagaimana kondisi sebenarnya dari perkataan orang lain yang dilontarkan terhadapnya.

"Jika kita mendapat mom shaming , yang pertama adalah jangan reaktif." "Kita analisa dulu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Kita harus punya prinsip dan sudut pandang yang benar, yang bisa kita pertanggungjawabkan," terangnya. Pasalnya, Nina mengatakan,terkadang seseorang justru tidak peka bahwa dirinya sedang diingatkan.

Oleh karenanya, logika dan kepala dingin perlu dilatih untuk mampu menghadapi komentar orang lain secara bijak. "Kadang karena rentan shaming , kita malah nggak peka kalau kita sedang diingatkan oleh saudara atau sahabat kita." "Jadi harus terus melatih logika dan kepala dingin supaya tidak reaktif."

"Karena kalau kita bereaksi saat emosi, biasanya hasilnya tidak baik," kata Nina. Nina mengatakan, mom shaming sebenarnya dapat dikendalikan dengan membiasakan diri berpikir secara logis dan ilmiah. "Kalau menurut saya, mom shaming ini bisa dikendalikan jika kita terbiasa untuk berpikir logis dan ilmiah."

"Artinya, apapun yang kita katakan sebaiknya ada dasar ilmunya. Tidak sekadar berbicara, tidak sekadar mengomentari," ujarnya. Namun, menurut Nina, hal ini memang masih kurang banyak diasah di sekolah sekolah. Sehingga, kemampuan untuk mengendalikan emosi, amarah, hingga rasa kecewa masih sangat minim.

"Sayangnya kemampuan seperti ini tidak begitu banyak diasah di sekolah karena sekolah dari beberapa dekade ini sudah mulai arahnya ke nilai rapor." "Sehingga, kemampuan, skill diri untuk mengendalikan emosi, amarah, rasa kecewa itu sangat minim diakomodir di sekolah sekolah," kata dia. Bicara soal mom shaming, Nina menjelaskan, perilaku ini lebih banyak dilakukan oleh para perempuan.

Nina menerangkan, hal ini dipengaruhi oleh kinerja otak perempuan yang sangat banyak dan random. Sehingga, perempuan akan meluapkan hal yang menarik baginya. "Perempuan itu memang dari otaknya memiliki banyak sekali saluran yang nggak urut, artinya lebih random daripada laki laki."

"Sehingga, cara pikir kita pun ya random. Mana yang tiba tiba menarik, akan kita blow up , mana yang tidak menarik ya akan tidak di blow up lagi atau dibiarkan begitu saja," terangnya. Selain itu, Nina menyebutkan, perempuan pada dasarnya memang lebih suka berbicara dibanding para laki laki. Ia mengatakan, sejak pukul 10 pagi hingga pukul 5 sore, perempuan memiliki 7.000 hingga 20.000 kata.

Sedangkan, seorang laki laki hanya memiliki maksimal 7.000 saldo kata saja. "Jadi bisa dibayangin kan perempuan itu sangat suka bicara?" "Ya fitrahnya seperti itu, jadi lebih mudah mengomentari, lebih mudah untuk reaktif akan sesuatu," terangnya.

Menurut Nina, sifat reaktif seseorang akan membuat dirinya lebih mudah merasa insecure. Lantas, perasaan itu akan membuat dirinya cenderung menyerang orang lain sebelum dirinya diserang. "Jadi lebih reaktif daripada dipikir duluan. Itulah kenapa perempuan itu biasanya lebih main pada perasaan daripada hal hal yang bersifat logika," lanjutnya.

Oleh karena itu, Nina mengatakan,hal ini tentunya dapat dikendalikan dengan melatihnya. Menurut Nina, apabila seseorang dapat membiasakan diri untuk melatih otak neokorteksnya, yaitu otak yang dominan dengan kemampuan logika, maka mereka tidak akan memiliki waktu untuk melakukan mom shaming. "Otak neokorteks dengan otak reptil ini tidak bisa menyala bersama sama, sehingga kalau neokorteksnya menyala, reptilnya akan padam."

"Sehingga kalau seseorang terbiasa dilatih pikirannya untuk memikirkan hal hal yang positif, akademis, berbobot, biasanya mereka tidak punya waktu untuk mom shaming, body shaming, or comenting to order actions gitu karena otaknya sudah biasa untuk memikirkan hal hal yang lebih baik," jelas Nina.

Load More Related Articles
Load More In Lifestyle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ini Deretan Permainan yang Bisa Menunjang Tumbuh Kembang Si Kecil & Kecerdasannya

Deretan permainan ini bisa membantu Si Kecil belajar dan baik untuk perkembangan mereka. M…