Home Corona Mereka Tidak Punya Air Bersih & Sabun Peneliti Barat Tak Percaya Korut Bebas Corona

Mereka Tidak Punya Air Bersih & Sabun Peneliti Barat Tak Percaya Korut Bebas Corona

13 min read
0
0
3

Klaim nol kasus Covid 19 di Korea Utara diragukan banyak orang. Lalu, bagaimana sebenarnya cara Korut menangani virus corona? Korea Utara menutup perbatasannya dengan China 22 Januari lalu, sehari sebelum status lockdown diberlakukan di kota Wuhan, China. Apakah Pyongyang, ibu kota Korea Utara, mengetahui sesuatu mengenai virus tersebut yang tidak diketahui negara lain?

Atau mereka justru bereaksi cepat karena menganggap sebagai ancaman besar bagi kesehatan? Jawabannya, seperti banyak juga hal lain soal Korea Utara, sulit dipastikan karena negara ini adalah salah satu negara yang paling tertutup di dunia. Namun, paling tidak menurut media milik pemerintah Korea Utara, usaha mereka memerangi Covid 19 di Korea Utara berhasil, karena sejauh ini tidak sama sekali mencatat adanya kasus corona.

"Saya curiga mengenai angka nol itu," kata W Courtland Robinson, asisten profesor di Johns Hopkins University di Amerika Serikat kepada ABC News. "Dengan tindakan yang diambil lebih awal, melihat kedekatannya dengan China, dan betapa cepatnya virus itu menyebar, besar kemungkinan Korea Utara paling tidak memiliki beberapa kasus." Tindakan awal yang cepat Korea Utara mengejutkan banyak pihak ketika memutuskan menutup perbatasannya dengan China pada 22 Januari.

Warga China sudah lama menjadi turis terbanyak ke Korea Utara, yang juga menjadi sumber pendapatan terpenting saat negaranya mendapat sanksi internasional. Namun sejak pandemi Covid 19, perjalanan di dalam negeri dibatasi, dengan warga asing dan warga setempat yang baru pulang dari luar negeri harus menjalani karantina ketat. Tempat tempat umum, termasuk sekolah dan toko toko ditutup, penggunaan masker diwajibkan, warga, baik muda atau lanjut usia, diminta tinggal di rumah.

Namun dengan keputusan cepat seperti ini, pengamat seperti Courtland justru mengatakan aspek kesehatan lain yang dilakukan Korea Utara masih belum jelas. "Tidak ada bukti nyata mengenai kebijakan social distancing, atau juga tes besar besaran ataupun pelacakan terhadap mereka yang terjangkit," katanya. Jie Chen, peneliti masalah internasional di University of Western Australia mengatakan pemahaman Korea Utara soal sistem propaganda di China dan kesamaan sistem politik antara kedua negara memainkan peranan.

"Korea Utara sangat khawatir di masa masa awal karena pemimpin mereka mengerti betul bagaimana rezim otoriter bekerja," kata Dr Chen. "Mereka tahu apa yang terjadi. Itulah mengapa mengapa mereka menutup perbatasan sebelum lockdown di Wuhan." Layanan kesehatan yang lemah dan warga yang rentan Katharina Zellwegger, pakar kesehatan dari Stanford University di Amerika Serikat, mengatakan sebelum wabah virus corona, Korea Utara sudah mengalami berbagai masalah termasuk layanan kesehatan.

"Layanan kesehatan di sana, menurut pendapat saya, sudah ditelantarkan oleh organisasi bantuan internasional, hanya beberapa saja yang bekerja di sektor ini," kata katharina. "Rumah sakit yang ada kebanyakan sudah lama dan bangunannya sudah rusak. Peralatannya juga banyak yang sudah kuno dan persediaan obatnya terbatas." Courtland Robinson dari Johns Hopkins University mengatakan banyak rumah sakit bahkan tidak memiliki akses untuk mendapatkan bahan bakar ataupun air bersih, sementara peralatan canggih "tidak berfungsi atau tidak tersedia."

"Infrastruktur kesehatan publik lemah dan sudah tidak mendapat pendanaan memadai selama puluhan tahun." Apa yang terjadi bila ada wabah di sana? Media Korea Utara yang dikontrol pemerintah mengatakan sejauh ini tidak ada kasus Covid 19. Wartawan senior Jean H Lee, yang pernah menjadi kepala biro kantor berita AP di Pyongyang mengatakan, penting sekali untuk selalu mempertanyakan berita yang disampaikan media di Korea Utara.

Menurutnya, banyak warga asing yang tinggal di Korea Utara sudah memutuskan meninggalkan negeri itu, sehingga susah untuk menemukan sumber independen mengenai keadaan di sana. "Kita tidak akan tahu berapa warga Korea Utara yang meninggal karena Covid 19, namun yang kita tahu sebagian besar penduduk di sana sangatlah rentan," kata Jean. Selama dia meliput di sana, Lee mengunjungi banyak fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit terbaik di Pyongyang sampai dengan klinik lokal yang dijalankan oleh perempuan.

"Saya masih ingat, dokter di sebuah klinik di sana mengatakan kepada saya, mereka tidak memiliki obat untuk menghentikan diare, dan diare adalah penyebab kematian utama di komunitasnya," tambahnya. "Bayangkan betapa susahnya bagi mereka menghadapi pandemi seperti Covid 19." Sementara fasilitas kesehatan tampak bersih, tetapi mereka sering kali tidak memiliki air bersih, listrik dan bahkan sabun. "Lupakan soal ventilator, mereka bahkan tidak memiliki sabun atau hand sanitizer."

Steve Chung, peneliti politik dan budaya Korea di University of Hong Kong, mengatakan kepada ABC jika fasilitas medis di Korea Utara sangat tertinggal dibandingkan negara negara maju. "Rumah sakit terbaik di Korea Utara mungkin 30 50 tahun tertinggal dibandingkan di negara Barat dan itu masih perkiraan yang terbaik," kata Steve. Dia mengatakan obat obatan dan cairan pembersih diseludupkan dari China ke Korea Utara, karena pasokan barang barang seperti ini tidak pernah cukup, selain juga akibat kurangnya informasi kesehatan publik yang disampaikan pemerintah.

Dr Jie Chen dari University of Western Australia mengatakan Korea Utara tampaknya bertekad untuk "tidak kalah menghadapi Covid 19" dan itulah alasan sebenarnya mengapa negeri itu cepat bertindak. "Korea Utara memiliki salah satu sistem pelayanan kesehatan terburuk di dunia, sanksi PBB pun membuat negeri itu hampir tidak mendapat bantuan internasional selama pandemi." kata Dr Chen. Korea Selatan untuk pertama kalinya tidak mencatat kasus infeksi lokal baru sejak Februari silam.

Data ini merupakan hasil catatan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC). Sementara itu, KCDC hanya melaporkan empat kasus corona baru yang kesemuanya adalah kasus impor. Bersama penambahan ini, secara nasional jumlah infeksi corona di Korea Selatan adalah 10.765 sebagaimana dikutip dari .

Korbanmeninggal dunia bertambah satu orang menjadi total 247 sedangkan sejumlah 9.059 sudah sembuh. KCDC mengatakan, dari seluruh jumlah infeksi, sebanyak 1.065 adalah kasus impor. Jadi sekitar 9.000 lebih adalah penduduk Korsel yang terinfeksi.

Pertumbuhan infeksi Covid 19 di negara gingseng terus melambat selama beberapa pekan terakhir. Apalagi bila dibandingkan dengan akhir Februari hingga awal Maret di mana setiap hari ada kasus infeksi dan kematian baru. Menyusul hal ini, pemerintah akhirnya melonggarkan beberapa aturan jarak sosial.

Langkah ini diharapkan bisa berlanjut hingga pengangkatan jarak sosial nasional. Tentu saja hal itu akan dilakukan bila infeksi benar benar menyusut atau negara sudah bisa mengendalikan wabah. Tapi otoritas kesehatan masih mewanti wanti warga dan pemerintah meski kasus mulai melambat.

Pihaknya mendesak supaya masyarakat tetap berhati hati dalam beberapa hari ke depan, saat ada serangkaian hari libur yang dimanfaatkan warga saling bepergian. Warga Korea Selatan merayakan hari ulang tahun Buddha pada Kamis (30/4/2020). Sementara May Day pada Jumat (1/5/2020) dan Hari Anak pada Selasa (5/5/2020) pekan depan.

Lain daripada itu, otoritas kesehatan menyimpulkan bahwa tidak ada penularan lokal yang terjadi saat pemilihan parlemen bulan ini. Lantaran pemerintah melakukan langkah antisipasi bagi pemilih, seperti mewajibkan masker dan sarung tangan plastik. "Dua puluh sembilan juta pemilih berpartisipasi dalam pemilihan parlemen 15 April."

"Tidak ada satu pun kasus yang terkait dengan pemilihan telah dilaporkan selama 14 hari masa inkubasi," kata direktur jenderal untuk kebijakan kesehatan masyarakat, Yoon Tae ho. Yoon berterima kasih kepada staf dan pemilih, yang mendisinfeksi tempat pemungutan suara di seluruh negeri dan menjaga jarak 1 meter satu sama lain. Sementara itu, sebuah laporan ahli klinis pada Rabu lalu menyimpulkan bahwa pasien Covid 19 yang sebuh bisa kembali positif corona.

Namun positif itu dikatakan sebagai positif palsu karena pasien itu terinfeksi ulang bukan aktif kembali virusnya. Ketua komite mengatakan positif palsu adalah karena batas teknis pengujian PCR. Negeri gingseng sejauh ini melaporkan 292 kasus seperti itu.

Setelah bergulat dengan wabah dari China, Korea Selatan berhasil mengendalikan wabah tanpa gangguan besar dengan pengetesan masif dan pelacakan kontak yang intensif.

Load More Related Articles
Load More In Corona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Pemerintah Diminta Petakan Potensi Kendala Laboratorium Tes Swab di Seluruh Indonesia

Praktisi Lab Molekular Diagnostik DKI Jakarta Ungke Antonjaya mengusulkan agar pemerintah …