Home Sains Berpotensi Berdampak Buruk pada Bumi Bintik Matahari Seukuran Mars Mengarah menuju Bumi

Berpotensi Berdampak Buruk pada Bumi Bintik Matahari Seukuran Mars Mengarah menuju Bumi

9 min read
0
0
2

Sebuah bintik matahari raksasa telah diidentifikasi di permukaan matahari. Pengamatan menunjukkan, bintik matahari tersebut berputar ke arah bumi. Dilansir , bintik matahari bernama AR2770 itu memiliki lebar yang hampir sama dengan planet Mars.

Diperkirakan, ukuran AR2770 akan bertambah besar. Diketahui, sunspot ataubintik matahari adalah bagian dari permukaan matahari yang dipengaruhi konsentrasi fluks medan magnet. Bintik matahari mengakibatkan terhambatnya konveksi dan membentuk daerah bersuhu lebih dingin.

Bintik matahari dikenal sebagai indikator peristiwa seperti semburan matahari, yang dapat menimbulkan konsekuensi bagi kehidupan di Bumi. Sementara itu, semburan matahari adalah ledakan besar di atmosfer matahari yang dapat melepaskan energi sebesar 6 x 1025 Joule. Semburan matahari yang cukup besardapat mengirimkan tembakan radiasi melalui ruang hampa.

Pada akhirnya, hal tersebut mengganggu sinyal radio atau transmisi navigasi satelit. Para ahli mengatakan, AR2770 telah mengeluarkan sejumlah semburan matahari kelas B. Semburanini merupakan kelassemburanmatahari terendah.

Hal tersebut telah didokumentasikan oleh astronom Martin Wise, yang mengambil gambar dari Trenton, Florida. Wise menggunakan cakupan 8 inci dengan filter matahari yang aman untuk memotret. "Bintik matahari ini adalah sasaran empuk bagi teleskop surya saya," kata Wise kepada <a> Space Weather </a>.

Bulan lalu, NASA mencatat semburan matahari terkuat sejak Oktober 2017. Semburan matahari itu, bersama dengan bintik matahari yang baru ini, adalah indikator Siklus Matahari 25, periode 11 tahun aktivitas elektromagnetik baru yang baru saja dimulai matahari. Pada 2019, NASA mengumumkan dimulainya siklus matahari baru dengan peringatan adanya ledakan matahari yang besar.

"Setelah matahari kita melewati Minimum Matahari saat ini, aktivitas matahari seperti letusan gunung akan menjadi hal yang umum selama beberapa tahun mendatang," ungkap NASA. Semburanmatahari paling terkenal, yang dikenal sebagai Coronal Mass Ejection, terjadi pada tahun 1859. Peristiwa itu menyebabkan badai geomagnetik yang disebut Carrington Event.

Carrington Event membawa partikel bermuatan yang membombardir magnetosfer Bumi. Jika peristiwa semacam ini kembali terjadi sekarang, dampaknya akan sangat menghancurkan. "Carrington Event memampatkan medan magnet bumi dengan sangat kuat, sehingga arus dibuat dalam kabel telegraf begitu besar,dan banyak kabel terpicu dan memberikan syok pada operator telegraf."

"Jika peristiwa sekelas Carrington bedampak pada Bumi hari ini, spekulasi menyatakan bahwa kerusakan mungkin terjadi pada jaringan listrik global dan elektronik dalam skala yang belum pernah dialami," imbuh NASA. Pada bulan Agustus, ada beberapa peristiwa atau fenomena astronomi angkasa yang terjadi di langit angkasa. Pada pekan pertama Agustus kemarin, Bulan telah mencapai fase purnamanya tepatnya pada 3 Agustus 2020.

Selain itu, seperti dikutip dari , terjadi pula perihelion atau titik terdekat planet Mars serta Merkurius dengan Matahari. Perhelion Mars terjadi pada 3 Agustus lalu perhelion Merkurius terjadi pada 6 Agustus kemarin. Kini memasuki pekan kedua, masih ada beberapa fenomena yang terjadi di langit angkasa.

Mengumumkan setidaknya ada enam fenomena astronomi yang terjadi di langit angkasa. Diantaranya yakni Bulan berada di titik terjauh dari Bumi, kemudian konjungsi Bulan Mars ingga hujan meteor perseid. Berikut 6 Fenomena Astronomi Pekan Kedua Agustus 2020berdasar catatan Pusat Sains Antariksa Lapan:

Bulan berada pada titik terjauh dari bumi pada Minggu (9/8/2020) pukul 20.46 WIB. Jarak terjauh tersebut yakni 407.076 kilometer dengan iluminasi 69,8 % pada fase benjol akhir. Ketika apogee ini, bulan berada di konstelasi rasi bintang pisces.

Pada hari itu, bulan mulai terlihat dari timur pada pukul 22.30 dan terbenam esok harinya pada puku; 10.00 WIB. Konjungsi Bulan Mars juga terjadi pada Minggu (9/8/2020). Konjungsi Bulan Mars ini dapat disaksikan sejak pukul 22.30 yang mana adalah waktu terbit bulan pada malam itu di arah timur.

Konjungsi ini berakhir ketika senja bahari/nautika berakhir, yakni 24 menit sebelum matahari terbit. Ketika konjungsi Bulan Mars ini, bulan terpisah sejauh 4,3 derajat terhadap Mars. Pada 11 Agustus 2020, bulan akhir berada di puncak fase perbani akhir, tepatnya pada pukul 23.44 WIB.

Saat itu, bulan berjarak 401.942 km dari bumi dan tampak dengan lebar sudut 29,7 menit busur. Letak bulan saat perbani akhir ini berada di arah timur timur laur dan berkulminasi di arah utara ketika matahari terbit. Bulan berada di Manzilah Botein (Delta Arietis) di konstelasi rasi bintang Aries.

Pada hari itu, bulan terbit pada waktu tengah malam dan akan terbenam pada siang/tengah hari. Fenomena astronomi yang menarik lainnya yakni terjadinya puncak hujan meteor perseid. Hujan meteor Perseid yang terjadi sejak 17 Juli 2020 lalu mencapai puncaknya pada 12 13 Agustus 2020.

Hujan meteor perseid ini akan berakhir pada 24 Agustus mendatang. Menurut Lapan, intensitas maksimum hujan meteor ini mencapai 60 70 meteor tiap jamnya dengan kelajuan meteor mencapai 212.400 km/jam. Hujan meteor ini berasal dari sisa sia debu komet 109P/Swift Tuttle dan dapat disaksikan mulai tengah malam hingga fajar bahari/nautika berakhir, yakni 24 menit sebelum matahari terbit.

Dinamai hujan meteor perseid, hal ini berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan metero) yang terletak di konstelasi rasi bintang Perseus. Planet Venus akan mencapai elongasi maksimum di arah barat pada 13 Agustus 2020 pukul 07.21 WIB sebesar 46 derajat. Elongasi maksimum barat Venus ini merupakan hal yang biasa terjadi, rata rata setiap 19 bulan sekali.

Terakhir kali Venus di Elongasi Barat terjadi pada 6 Januari 2019 dan akan terjadi lagi pada 21 Maret 2022, bertepatan dengan Ekuinoks Aries. Pada 13 Agustus nanti, Venus terletak di 20 derajat utara Matahari dengan ketinggian 41,3 derajat dan berada di Manzilah Alhena (Gamma GeminoriumI) konstelasi rasi bintang gemini. Saat itu, Venus akan dapat diamati dengan mata telanjang karena magnitudonya mencapai 4,3 dan lebar sudut 23,8 detik busur.

Selain berada di Elongasi maksimum barat, Venus juga mencapai fase dikotomi pada 13 Agustus2020. Terjadinya dikotomi Venus hanya berselisih beberapa jam dengan waktu elongasi maksimum Venus. Dikotomi merupakan nama lain dari fase perbani ataur kuartir atau kuadratur.

Dikotomi juga dapat disebut konfigurasi ketika bumi, planet dan matahari membentuk sudut siku siku atau 90 derajat. Hal ini membuat bagian planet yang teramati dari bumi akan tampak bercahaya 50% dari luas piringan.

Load More Related Articles
Load More In Sains

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Berbentuk Batang & Ber-flagel buat Bergerak Ahli Ungkap Wujud Bakteri Berbahaya Listeria

Nama bakteria Listeria monocytogenes belakangan ini menjadi bahan perbincangan masyarakat …