Home Nasional Aku Takut Ngomongnya Budi Setyarso Sebut Pelanggar HAM Kini Jadi Penasihat Jokowi Radhar Panca

Aku Takut Ngomongnya Budi Setyarso Sebut Pelanggar HAM Kini Jadi Penasihat Jokowi Radhar Panca

8 min read
0
0
4

Jurnalis senior, Budi Setyarso menyebut pelanggar hak asasi manusia (HAM) di masa lalu yang kini justru dipercaya menduduki posisi strategis di pemerintahan. Ia pun menyinggung soal Nawa Cita pada periode pertama pemerintahan Jokowi. Dalam Nawa Cita itu, Jokowi berjanji akan mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Melalui tayangan YouTube KompasTV, Rabu (18/12/2019), mulanya Budayawan Radhar Panca mempertanyakan kemampuan Jokowi dalam mengungkap pelanggaran HAM berat di masa lalu. "Dipilih memang berdasarkan kapabilitas? Yang bilang rakyat pilih orang berdasarkan kapabilitas siapa?," tanya Radhar Panca. "Orang kadang kadang cuma milih garis rambutnya tok kok, miring kanan atau miring kiri."

Lantas, Radhar Panca pun menyinggung soal Nawa Cita Jokowi. "Dia itu ngomong enggak cuma itu doang kan yang Nawa Cita itu kan, kalau saya ngomong kebudayaan itu sudah paling parah," ujar Radhar Panca. "Tapi ngomongnya tiga, yang dua lainnya itu loh, yang politik dan ekonomi itu kan juga tidak terlaksana."

Menurutnya, belum tercapainya Nawa Cita itu perlu dievaluasi, untuk mengetahui letak masalah yang sesungguhnya. "Artinya ada problem, apakah problem itu ada pada institusinya atau justru mungkin pada manusia manusianya," sambung dia. "Jangan sampai demokrasi itu kita tafsirkan semata mata cuma alat atau piring untuk kita makan siang."

Menanggapi hal itu, Budi Setyarso pun turut angkat bicara. Budi Setyarso menyinggung pelaku pelanggaran HAM 1998 yang kini justru ditunjuk menduduki jabatan di pemerintahan. "Kalau kita bahas soal pelanggaran HAM sejak tahun 1998 sampai sekarang kita akan menunjuk pasti pada satu orang," kata Budi Setyarso.

"Yang itu dengan sadar dimasukkan dalam pemerintahan, kita enggak usah sebut nama orang pasti sudah tahu." Namun, Radhar Panca justru menyeletuk. "Aku takut ngomongnya," ucap Radhar Panca tergelak.

Melanjutkan penjelasannya, Budi Setyarso menyebut keputusan Jokowi mengangkat pelanggar HAM sebagai pejabat negara justu semakin menyulitkan pengusuran pelanggaran HAM berat masa lalu. "Dan bagaimana menunjukkan komitmen untuk mengungkap kasus kasus HAM?," ucap Budi Setyarso. "Bagaimana sih kita bicara komitmen tapi terang terangan mengangkat orang yang selalu disebut sejak tahun 1998?," sambungnya.

Lantas, Budi Setyarso menyinggung soal isu pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Di tahun 2019 ini juga menurut saya kemunduran yang harus disoroti adalah bagaimana lemahnya KPK itu," ucap Budi Setyarso. "Karena itu ujungnya juga pelanggaran HAM juga, korupsi kan melanggar HAM banyak orang juga."

Menurutnya, pelangggaran HAM berat di masa lalu menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu segera diselesaikan. Disebutnya, demokrasi di Indonesia semakin hari justru kian mundur. "Saya pikir itu catatan yang besar, yang harus kita bold bahwa mundur sekali demokrasi itu," kata Budi Setyarso.

Lebih lanjut, Budi Setyarso menyinggung pelanggar HAM berat masa lalu yang justru diangkat menjadi penasihat Jokowi. "Kalau kembali ke pelanggaran HAM, bagaimana kita berjanji menjalankan sementara beberapa orang yang disebut melanggar HAM dimasukkan pemerintahan, dimasukkan sebagai penasihat," tutupnya. Sementara itu, sebelumnya, pekerja seni Sudjiwo Tedjo juga menyentil sejumlah jenderal yang terlibat kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Melalui tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) ,Selasa (17/12/2019), Sudjiwo Tedjo pun mengaku tak memahami makna HAM yang sebenarnya. Bahkan, ia justru mempertanyakan definisi manusia. "Yang ingin saya soroti kalau hak asasi manusia, manusia itu apa sih?," tanya Sudjiwo Tedjo.

Lantas, ia menyinggung sosok manusia yang tak berperilaku sesuai kodrat manusia. "Jangan jangan yang sosoknya sudah manusia sebenarnya belum manusia?," ucap dia. "Kalau itu dibunuh melanggar HAM tidak?"

Ia pun menyinggung sejumlah pihak soal definisi manusia. "Itu saja, karena banyak yang sosoknya manusia ternyata belum manusia," kata Sudjiwo Tedjo. "Definisi manusia kalau saya denger dari kiai yang sekarang dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini."

Tak hanya itu, Sudjiwo Tedjo juga menyinggung sejumlah ilmuwan Yunani terkait pengertian manusia. "Yang penting itu esensi kalau kata Plato, kalau kata Aristoteles yang penting realitasnya," ujar Sudjiwo Tedjo. "Kalau orang Jawa itu menganut esensi, karena itu Hanoman itu kera tapi wujudnya manusia, jauh lebih manusia ketimbang manusia."

Ia pun kembali menanyakan makna sesungguhnya dari HAM. "Nah, sekarang HAM itu apa definisinya?," kata dia. Melanjutkan pernyataannya, Sudjiwo Tedjo justru menyentil sejumlah jenderal yang terlibat kasus pelanggaran HAM.

Kasus pelanggaran HAM para jenderal yang hingga kini tak ada tindak lanjutnya pun menjadi bahan bercandaan pria 57 tahun itu. "Jangan jangan jenderal yang telibat HAM tidak usah diadili karena (mereka) bukan manusia?," ucap dia. Ucapan Sudjiwo Tedjo itu pun mengundang tepuk tangan penonton.

"Loh, kan ilmu pengetahuan sudah maju, mestinya bisa mengukur dong mana yang manusia, mana yang enggak," sambungnya.

Load More Related Articles
Load More In Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

78 Juta dari Global Climate Fund Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia Terima RBP USD 103

Masih dalam suasana bulan Kemerdekaan Republik Indonesia, Indonesia mendapatkan pengakuan …