Home Regional 5 Tahun Ternyata Sudah Berjalan 1 VIRAL Kisah Ketua RT Pasang Wifi buat Sekolah Daring Anak-Anak

5 Tahun Ternyata Sudah Berjalan 1 VIRAL Kisah Ketua RT Pasang Wifi buat Sekolah Daring Anak-Anak

9 min read
0
0
2

Kisah inspiratif dari seorang Ketua RT di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat viral di media sosial. Ketua RT tersebut mengaku berinisiatif memasang wifi guna mempermudah anak anak di kampungnya mengakses internet untuk proses belajar. Pemasangan wifi di Balai RT ini pun dimanfaatkan untuk memudahkan proses sekolah daring di masa pandemi Corona (Covid 19).

Sang Ketua RT menyebutkan, pemasangan WiFi tersebut dilakukan dengan meminta setiap KK di wilayahnya menabung Rp 1.000, per hari. Dari 55 KK yang ada, setiap bulannya, kampung tersebut dapat mengumpulkan uang sekira Rp 1,6 juta. Dana tersebut kemudian mampu dimanfaatkan untuk membayar akses internet setiap bulan, membeli printer , hingga membayar biaya transportasi untuk guru yang datang.

Kisah itupun sontak menyita perhatian warganet dan menjadi viral. Diketahui, kisah tersebut awalnya diunggah oleh akun Facebook Ridwan Suryanagara di grup Facebook Info Cegatan Jogja, Selasa (28/7/2020). Kini, unggahan Ridwan tersebut telah banyak dibagikan oleh sejumlah akun media sosial.

Kisahnya tersebut tampak viral di sebuah unggahan akun Instagram @TanteRempong, Sabtu (1/8/2020). Hingga Minggu (2/8/2020) siang, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 2.000 orang. Ia pun membenarkan bahwa dirinya merupakan Ketua RT di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, Ridwan mengungkapkan, pemasangan WiFi di kampungnya bukanlah hal baru. Menurut Ridwan, pihaknya telah memasang WiFi di Balai RT sejak 1,5 tahun lalu. "Pemasangan WiFi bukan baru sekarang, sudah dipasang sejak 1,5 tahun lalu, jauh sebelum ada Pendemi Covid 19," bebernya.

Sementara itu, Ridwan tetap enggan membeberkan dimana tepatnya lokasi kampung tersebut. "Mohon maaf kalau nama kampung tidak akan saya sebutkan sesuai kesepakatan dengan warga kampung," tuturnya. Dalam unggahannya, Ridwan menceritakan, pemasangan WiFi di Balai RT untuk memudahkan belajar anak anak sekolah ini ia mulai dengan mewajibkan setiap KK menabung Rp 1.000, per hari.

Menurut Ridwan, ada sebanyak 55 KK di daerahnya. Tabungan dari setiap KK tersebut diminta untuk diletakkan dalam sebuah toples di dinding depan rumah. Setiap akhir bulan, para anggota karang taruna akan mengambilnya di setiap rumah dan mengumpulkannya.

"Jadi dalam satu bulan setiap rumah mengumpulkan Rp 30 ribu, nah ini dikumpulkan dari 55 KK," jelasnya. Kemudian, dari iuran yang terkumpul, menurut Ridwan, hal itu bisa untuk membayar akses internet, membeli kertas, hingga membeli printer . "Dari Rp 1,6 juta yang terkumpul, Rp 600 ribu untuk membayar akses internet 50 MBPS."

"Sisa Rp 1 juta dipergunakan untuk membeli kertas beberapa RIM, beli tinta printer , jadi kalau ada tugas yang mesti di print , ya tinggal print saja, nggak perlu ke warnet atau ke rental komputer untuk membayar uang transport guru guru yang mau datang mengajar di kampung kami," beber Ridwan. Ridwan menambahkan, di Balai RT wilayahnya pun menyediakan sejumlah komputer. Menurutnya, komputer tersebut didapat dari hasil sumbangan warga yang tergolong mampu di kampungnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga menggerakkan para muda mudi yang tegabung di karang taruna untuk turut membantu proses belajar bersama di Balai RT. Para anggota Karang Taruna itu pun meminjamkan handphone (HP) untuk anak anak yang memerlukannya untuk belajar. "Anak anak yang tidak punya HP dipinjamkan HP dari anak karang taruna yang mengurusi kegiatan belajar bersama di kampung kami."

"Anak anak muda lulusan SMA/SMK/D3 yang masih nganggur dan mau membimbing dikasih kerjaan membimbing adik adiknya di kampung, dibayar sehari Rp 20 ribu dari uang kas RT," jelas Ridwan. Ia menambahkan, lingkungan RT nya juga mengumpulkan uang untuk membeli proyektor kecil guna mempermudah proses belajar. "Ini (proyektor) tujuannya biar membuka akses ruang guru lebih besar tangkapan layarnya, jadi anak anak bisa fokus ke layar besar tanpa harus membuka HP karena tidak semua anak punya HP," terangnya.

Di masa pandemi Corona (Covid 19) saat ini, Ridwan mengatakan, meja meja di balai desa diatur jaraknya. Selain itu, ia juga mempersilakan warga dari kampung lain untuk turut bergabung. Namun, warga dari kampung lain diwajibkan untuk mengikuti pemeriksaan setiap harinya.

"Kalau ada anak yang dari luar kampung kami mau ikut belajar dikarenakan tidak mempunyai HP, ya kami persilakan dengan catatan diperiksa dulu setiap hari kesehatannya, ikutin aturan di kampung kami," ujarnya. "Di balai RT disediakan meja ke meja, diatur jaraknya, yang mengatur sesuai prosedur kesehatan atau social distancing ," tambah dia. Sementara itu, setelah sekolah daring selesai, Ridwan mengatakan WiFi di Balai RT akan dimatikan.

Hal ini lantaran koneksi internet yang disediakan memang khusus untuk belajar saja. "Setelah proses belajar online selesai, WiFi dimatikan karena ini hanya akses buat belajar saja, bukan untuk dipergunakan membuka akses YouTube atau buat akses main games." "Tiap hari password diganti biar tidak dipakai sembarangan oleh anak anak yang tidak sekolah," bebernya.

Lebih lanjut, Ridwan pun berharap kegiatan di kampungnya itu dapat menginspirasi kampung lainnya. "Silakan contoh kegiatan seperti itu, seperti halnya di kampung saya," ujarnya. Menurut Ridwan, dengan menyisihkan Rp 1.000,00 per hari, hal ini dapat membawa banyak manfaat untuk seluruh warga.

Ia menilai, masyarakat di kota semestinya dapat melakukan hal serupa untuk mempermudah proses sekolah daring warganya. "Cuman Rp 1.000,00 per hari loh, sangat bermanfaat. Kalian yang di kota masa hal seperti itu saja kalian tidak mampu?" ujar dia.

Load More Related Articles
Load More In Regional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Dua Perangkat Desa di Tulungagung Ditahan Jaksa Beri Kesaksian Palsu Soal Pembunuhan

Karena memberikan keterangan palsu, dua perangkat Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat,…