Home Regional 3 Bulan Terkumpul Rp 100 Ribu kisah Tukang Ojek yang wajib Menabung Demi Beli HP buat Anaknya

3 Bulan Terkumpul Rp 100 Ribu kisah Tukang Ojek yang wajib Menabung Demi Beli HP buat Anaknya

6 min read
0
0
2

Cerita perjuagan seorang tukang ojek yang harus memenuhi fasilitas sekolah tiga anaknya. Butuh waktu tiga bulan bagi tukang ojek tersebut untuk mengumpulkan uang Rp 100 ribu. Beruntung uang Rp 100 ribu itu cukup untuk membeli hp bekas milik temannya.

Sejumlah orang tua merasakan kesulitan menghadapi sistem belajar dalam jaringan (daring) di tengah pandemi Corona. Selain pendapatan menurun, orangtua juga harus menyediakan handphone dan membeli kuota internet untuk anaknya. Untuk membantu anak menggapai cita cita, Andri Kurniawan dan istrinya Siti Khodijah berjuang sekuat tenaga memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.

Andri merupakan keluarga tidak mampu di Prabumulih yang memiliki tiga anak. Andri yang hanya bekerja sebagai tukang ojek terpaksa banting tulang dan peras keringat berjuang mengumpulkan uang demi membeli sebuah HP Android agar tiga anaknya bisa mengikuti pelajaran daring dari sekolah. Dengan mengandalkan hasil ojek yang tidak tentu, Andri terpaksa harus menabung sedikit demi sedikit demi mengumpulkan uang.

Butuh waktu satu bulan bagi Andri untuk mengumpulkan uang Rp 100 ribu dari hasil mengojek sehari hari. Hasil ojek Andri per hari jika ramai bisa mencapai Rp 50 ribu dan ketika tarikan sepi hanya antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Jika untuk hidup berdua dengan istri hasil tersebut mungkin tergolong cukup.

Namun dengan tiga anak yang sekolah dan istri tidak bekerja tentu hasil itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Selain untuk kebutuhan sehari hari dan menabung untuk membeli handphone, Andri juga harus menabung untuk membayar sewa rumah. Rumah papan yang dikontrak keluarganya berada di RT 06 RW 05 Kelurahan Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur kota Prabumulih dan setiap bulan harus dibayar sewa sebesar Rp 250 ribu.

Kondisi itu membuat Andri kesulitan menabung untuk membeli handphone. Hal itu membuat anaknya terpaksa mengalami kendala tertinggal beberapa pelajaran. Setelah menabung selama sebulan, ada kenalan Andri yang menjual hp android bekas seharga Rp 100 ribu sehingga anaknya mampu ikut pelajaran daring dari sekolah.

Namun setelah Hp bisa dibeli, Andri justru kembali harus bekerja ekstra lantaran handphone membutuhkan kuota untuk dipakai belajar daring setiap harinya. Kuota dengan cepat habis lantaran anak sulungnya yang sekolah di salah satu SMP di Prabumulih harus bergantian dengan dua adik kembarnya yang masih SD untuk menggunakan Hp agar bisa belajar daring. "Akibat corona dan belajar sistem daring ini susah kita, harus kejar kajaran bekerja terus untuk memenuhi keperluan sehari hari, sementara ojek sepi," kata Andri Kurniawan dengan raut muka sedih ketika dibincangi wartawan, Selasa (4/8/2020).

Andri mengaku sehari hari dirinya hanya mampu mengumpulkan uang dari hasil menarik ojek di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu setiap harinya. "Selama corona beberapa bulan kemarin sampai sekarang tarikan ojek masih sepi, terpaksa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli Hp karena sepi tarikan ojek. Untung ada teman jual hp bekas Rp 100 ribu jadi anak bisa belajar daring tapi malah kuota yang jadi kendala," keluhnya. Untuk belajar anaknya, Andri harus membeli paket internet dua hari sekali seharga Rp 8000 untuk belajar daring ketiga anaknya setiap hari.

"Dua hari sekali harus isi kuota internet karena cepat habis," katanya. Mirisnya, meski tergolong keluarga miskin namun hingga saat ini keluarga Andri Kurniawan tak pernah mendapatkan bantuan apapun baik berupa Kuota, PKH, KIP dan lainnya. "Selama ini belum ada bantuan apapun baik PKH, BLT maupun KIP," ucap Andri.

Lebih lanjut Andri Kurniawan juga mengharapkan agar Pemerintah Kota Prabumulih ada kepedulian sosial dan bantuan Kuota Gratis. "Keinginan kami agar pemerintah ada kepedulian sosial dan bantuan untuk kami rakyat kecil seperti ini dan jujur saja kami selaku orangtua kesulitan untuk membeli kuota Internet," harapnya. Sementara itu, Diah Rahmawati anak pertama Andri Kurniawan mengungkapkan, setiap hari sekolahnya selalu belajar daring dan karena hp hanya satu sehingga terpaksa bergantian dengan adiknya.

"Kalau Belajar daringnya gantian sama adik karena kalau adek sekolahnya siang dan kalau saya sekolahnya pagi jadi gantian sama adek karena cuma punya HP satu," ungkap Diah.

Load More Related Articles
Load More In Regional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Dua Perangkat Desa di Tulungagung Ditahan Jaksa Beri Kesaksian Palsu Soal Pembunuhan

Karena memberikan keterangan palsu, dua perangkat Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat,…